Hujan

Pagi itu sambil makan Umar dan Umi ngobrol soal langit yang mendung di kejauhan. Bagaimana proses terjadinya hujan, mulai dari air di lautan hingga akhirnya turun hujan dari awan. Disela obrolan Umar dadah2 sama nenek yang mau pergi ke warung dekat rumah. Oh iya, kami sedang stay di rumah neneknya.

Tak lama langit diatas rumah pun ikut mendung. Hujan mulai turun.

😊 : Awannya uda keberatan nampung airnya Umar, uda jatoh tuh, jadi hujan…

πŸ‘¦: awannya uda ga kuat ya mi nampung airnya 

πŸ˜ŠπŸ‘¦: Allahumma shoyyiban nafi’an….

Ga lama setelah berdoa Umar Brebes nangis. 

πŸ‘¦ : “Neneeek….”

😊 : “Umar kenapa nangis?” 

πŸ‘¦ : “Nenek kehujanaaan, nanti jilbabnya basaah”

😊 : “Oh iya nenek ga bawa payung yah…Umar sedih ya.. “

πŸ‘¦ : “Iyaaa Umar sediih, kaciaan nenek” (tangisannya meregga)

😊 : “Wah iya ya, semoga hujannya reda ya, yuk kita berdoa sama Allah, ya Allah lindungi nenek ya Allah supaya nenek ga kehujanan ya Allah..”

πŸ‘¦ : ” Ya Allah lindungi nenek ya Allah supaya ga kehujanan supaya baju neneknya ga basah kaciaaaan” (tangisannya kembali mengencang).

……..

Di pagi yang lain saat Uminya pulang dari warung dan kehujanan sebentar, Umar uda nangis kenceng. Bukan karena ditinggal. Tapi sadar kalau Uminya pergi tanpa payung dan ga lama hujan.Β “Kaciiaan umi kehujanan” jawabnya sambil sesenggukan ketika ditanya penyebab tangisannya.Β 

Dialog ditengah hujan ini kemudian seringkali muncul. Setiap hujan turun dan ada anggota keluarga yang ia tahu sedang berada diluar akan jadi bahan obrolan Umar seperti

“kasian ya kena hujan”

“Abi kena hujan ga ya”

“Kalo pake motor kan kena hujan mi”

“Bawa jas hujan ga ya”

And so on…

Masyaallah tabarakallah

Semoga sampai besar ya nak rasa belas kasih dan empati seperti ini ada di dirimu❀

#dialogUmarUmi

Leave a Reply