I’m okey

Pagi ini saya dan suami berencana untuk berkunjung dan menginap di rumah Mama malam harinya. Siang hari saya sudah persiapkan baju dan perintilan yang mau dibawa ke rumah Mama. Terutama baju dan kebutuhan suami untuk kerja keesokannya.
Seperti yang saya dan suami rencanakan paginya, sore hari sepulangnya doi dari kantor tas, jaket dan perintilan kerja lainnya sengaja nggak saya simpan seperti biasa karena akan dibawa serta ke rumah Mama. Pakaian dan kebutuhan saya sendiri sudah tinggal masuk ke dalam tas.
Belum masuk waktu isya, qodarullah rencana kami batal karena satu dan lain hal. Yah, sedih sih. Karena sedari siang saya uda persiapkan kebutuhan untuk dibawa serta. But it’s okey. Toh bisa digeser besok malam rencananya. Beres deh.
Bada isya sepulangnya suami dari mesjid, belum juga duduk, doi udah kasih kabar baru ke saya, mendadak harus pergi keluar menemani Abah mertua.
“Maaf ya sayang, aku diajak Abah..ga apa-apa ya?”
Saya yang lagi duduk-duduk sambil baca melihatnya dan merespon langsung
“Iya ga apa-apa, hati-hati yaa” lalu melanjutkan kembali bacaan saya sembari menunggunya berganti pakaian untuk pergi.
Nggak berapa lama setelah siap berangkat, doi bertanya lagi ke saya.
“Gapapa kan sayang?”
“Iya sayang ga apa2..” jawab saya masih memegang buku di tangan.
Detik berikutnya lagi-lagi doi bertanya
“Bener ya sayang nggak apa-apa?”
Saya menangkap kekhawatiran di suami. Ternyata doi khawatir saya sedih dan kecewa karena rencana pergi malam ini batal ditambah doi pergi keluar tanpa saya. Sadar akan hal itu, saya kemudian meletakkan buku yang sedang saya baca, duduk mendekat menghadapnya lalu lebih melembutkan suara dan intonasi suara dibanding sebelumnya.
“Nggak apa2 sayaaang..I’m okey.. temeninlah Abah..hati-hati yaa” jawab saya lagi sambil memegang tangannya.
Setelah mendengar dan melihat ketenangan saya, doi lalu berangkat dengan hati yang lebih tenang. Jawaban terakhir saya dari pertanyaannya yang berulang itu saya jawab dengan intonasi  suara dan bahasa tubuh yang lebih lembut dan tulus. Sehingga lebih meyakinkannya bahwa “saya benar nggak apa-apa”. Komunikasi dengan penekanan dan porsi yang lebih besar pada intonasi dan bahasa tubuh dibandingkan verbal tok ternyata benar lebih efektif pengaruhnya, seperti materi komunikasi produktif yang disampaikan di kelas Bunda Sayang.
#hari6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunsayIIP

Leave a Reply