Ketika “melempar cincau” ke calon suami

Tulisan kali ini untuk setoran #RumbelMenulisIPBatam. Minggu ini tema dari Munda Ainun Jafar adalah Awkward moment in life. Pasti dong selama hidup kita pernah berada di situasi yang canggung. Memikirkan tema ini kepala saya langsung me-recall  beberapa awkward moment yang pernah saya alami. Salah satunya adalah ketika calon suami (sekarang suami yak😆) silaturahmi ke rumah saya. 


Malam itu kalau nggak salah ketiga kalinya suami ke rumah menemui Papa. Dan kali pertamanya saya di rumah (sebelumnya saya di Jakarta). Malam itu masih suasana lebaran Idul  Fitri hari kedua atau ketiga kalau nggak salah. Jadi ya masih berasa banget suasana lebarannya. Ada kue-kue kering tersaji di meja tamu. Masing-masing toplesnya sudah saya buka tutupnya ketika dia baru tiba. 


Tidak berapa lama Papa dan si dia ngobrol, saya ke dapur mengambil nampan dan mengisinya dengan gelas kosong berbahan melamin. Tak lupa dua kaleng air kemasan berasa, cincau dan soya. Sengaja saya ambil dua, biar dia yang pilih mau yang mana. Sampai disini udah bisa kira-kira kan ya jalan ceritanya, hehe.


Setelah siap menyusun isi nampan, saya berjalan ke arah meja. Diantara meja panjang kayu segiempat itu, saya pilih ujung meja tempat si dia berada sebagai tujuan. Bukan dengan maksud lain kecuali agar mempermudahnya mengambil minumannya sendiri. Sementara di ujung  lain meja, memang sudah tersaji secangkir kopi yang tinggal setengah milik Papa. Sudah beliau seruput sebelum si dia tiba.
Pelan saya melangkah membawa nampan yang sudah terisi. Tidak berat, tapi saya usahakan sesantai mungkin membawanya. Terus terang agak canggung. Semakin dekat meja berarti semakin dekat dengan si dia. Deg-degan sih nggak, tapi canggung, karena situasi ini jarang terjadi. Terlebih ketika saya menghampiri meja, Papa dan si dia seketika berhenti ngobrol. Seolah semua fokus melihat saya. 


Saya turunkan pelan nampan kearah meja di hadapan si dia. “Duug…” kaleng cincau jatuh duluan ke meja dan menggelinding cepat tepat ke arah si dia. Cepat sekali kejadiannya. Saya kaget. Dan mungkin semua yang ada di ruangan itu kaget. Sebuah kaleng cincau jatuh sebelum waktunya. Terlempar lebih tepatnya. Karena ditambah gerakan menggelinding kearah si dia. Seolah sengaja saya lempar ke dia. 


Detik kemudian saya tersadar , kaleng sudah ditangan si dia. Ketika kaleng menggelinding akan jatuh ke arahnya, dengan sigap dia tangkap. Seperti Mrs. Smith di film agen rahasia Mr & Mrs Smith saat menangkap botol bir yang jatuh cepat. Wah, refleksnya bagus juga nih doi. Pikir saya yang saat itu….tentu saja kaget karena kejadian tersebut tak terduga.“eeh maaf maaf..” ucap saya otomatis ketika kaleng jatuh. Sekilas saya lihat si dia senyum-senyum. Papa juga. Saya cuma diam, nunduk, malas melihat lagi ekspresi si dia atau pun Papa saya. Canggung. Mungkin mereka kira saya grogi banget sampai meluncur si kaleng cincau ke arah si dia.
Alhamdulillah suasana kembali cair ketika Papa dan si dia kembali melanjutkan obrolannya. 


Kamu marah ya waktu itu ?” Begitu si dia sampai sekarang meledek saya kalau ingat kejadian “melempar cincau“.

#RulisKompakan #KomunitasIPBatam

Leave a Reply