Medali untukmu, Sobat!

sumber

Mungkin lempar lembing menjadi olahraga yang tidak sengetop Badminton atau Bola. Hanya segelintir orang yang akrab dengan olahraga yang menggunakan lembing panjang ini. Begitu juga bagi dua bocah yang saya kenal sekitar 9 tahun yang lalu. Sebut saja Her, anak perempuan yang hobi mencari keringat dan Rey anak laki-laki yang senang berpenampilan gothic. Singkat cerita, dua anak yang duduk di bangku SMP ini terpilih mewakili sekolahnya pada pekan olahraga sekolah di kotanya. Latihan demi latihan mereka lakukan. Kayu panjang menyerupai bentuk lembing yang sebenarnya mereka gunakan untuk berlatih tepat di belakang sekolah. Bahkan berat lembing yang mereka gunakan untuk berlatih melebihi berat lembing yang sebenarnya. Lari, membawa lembing, melatih tangan mengayunkan lembing, seluruh gerakan mereka latih.

Latihan yang dilakukan dibelakang sekolah yang berupa dataran tinggi itu rutin dilakukan menjelang hari pertandingan. Meskipun terik sore matahari mereka rasakan, angin sepoi-sepoi di bukit tersebut cukup menyegarkan. Karena latihan tersebut mereka jadi lebih dekat. Canda gurau khas anak SMP pada saat itu mewarnai latihan mereka.

Sampai akhirnya menjelang pertandingan mereka berdua berjanji disela gurauan. Janji yang bagi mereka berarti banyak. Mereka berjanji untuk menang dipertandingan, sama-sama membawa medali emas pulang. Dan jika hanya satu dari mereka yang berhasil menang sedangkan yang lain tidak, satu medali yang diperoleh akan dibelah menjadi dua. Dan masing-masing akan mereka simpan hingga waktu yang tidak ditentukan, untuk selalu mereka kenang. Itu janji mereka yang menghabiskan sorenya berlatih bersama.

Di hari pertandingan, lokasi yang sama, mereka bergantian, memberikan usaha terbaiknya untuk dapat tempat teratas. Her lebih dulu bertanding. Rey melihat, dan memberikan semangatnya untuk Her. Enam kali kesempatan lempar membawa lembingnya pada posisi dua terjauh. Tempat pertama bukan untuknya melainkan anak SMA yang berasal dari SMA favorit impiannya. Tapi tidak mengapa, merasa sudah memberikan yang terbaik, ia cukup tegar hanya menerima medali perak ditangan, bukan emas seperti yang mereka harapkan.

Giliran Rey yang bertanding, dengan lawan-lawan yang usianya lebih senior daripadanya. Enam kali kesempatan lempar adalah enam usaha terbaik darinya. Di kesempatan terakhir, jauh lemparan lembingnya berbeda tipis sekali dengan lawannya yang lain. Lemparan terakhirnya tidak bisa membawanya merebut tiga tempat teratas. Dan bagi Her, melihat Rey demikian membuatnya meleleh. Her tahu perjuangan Rey mulai dari latihan hinggga usaha terbaiknya di lemparan terakhir. Tidak heran jika Her tahu perasaan Rey hari itu. Tapi sedih mereka diimbangi dengan kebanggaan medali yang mereka peroleh. Ya, mereka peroleh. Memang Her yang memperoleh medali perak. Tapi medali itu milik mereka berdua. Dan seperti janji sebelumnya. Setelah simbolis penerimaan medali dari sekolah, medali itu mereka tatap dalam-dalam bersama. Mungkin kejadian selanjutnya bisa ditebak-tebak. . .

Sekali lagi, ini kisah dua anak SMP yang saya kenal. Bahkan salah satunya saya kenal dengan amat baik. Her adalah saya 9 tahun yang lalu. Kelihatannya anak-anak sekali ya kalau dipikir-pikir, tapi tidak buat kami pada saat itu, dan kenangan itu luar biasa. Meskipun medali itu akhirnya nggak jadi dibelah dua karena kualitas medalinya juga nggak oke dan mumpuni untuk dibelah-belah. Hhehe. Rey mau medali itu saya simpan. Dan masih sampai sekarang. Tidak peduli 9 tahun ini medali itu sudah jauh dari bentuknya semula. Medali ini untukmu, Sobat!

 

 

 

2 Comments

  1. octa viandra

    11 November, 2012 at 6:30 am

    dan medali perak itu juga untuk SMP N 6 Batam

  2. alkemis

    11 November, 2012 at 10:38 am

    One word, great !

Leave a Reply