Mengenalkan Allah sejak anak dalam kandungan

Tulisan kali ini bertema “Siapa sih Allah”, kurang lebih mengenai pengalaman saat mengajari nilai tauhid ke anak-anak, yang diusung temanya oleh mbak Ulfatul Hasanah pada putaran ke-5 arisan tulisan Rumbel Menulis IIP Batam. Temanya cukup berat menurut saya, karena perihal tauhid ini nggak main-main. Saya sendiri belum punya pengalaman langsung mengajari nilai tauhid ke anak, maklum baby masih di dalam perut belum launching hehe…

Meski demikian, ada pengalamanan yang mungkin masih berkaitan yang bisa saya bagikan. Meski belum mengajari nilai tauhid secara langsung ke anak, sejak sebelum menikah saya berdoa ke Allah agar kelak diberikan suami yang sholeh dan anak-anak yang sholeh/sholehah. Karena saya percaya, ikhtiar memperoleh harapan yang demikian harus dimulai jauh sebelum anak itu sendiri ada.

Alhamdulillah nggak lama setelah menikah saya hamil. sejak itu saya dan suami berusaha mentarbiyah diri kami, memantaskan diri kami untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak kami. Siapa yang nggak mau punya anak sholeh/sholehah? Yang akan membanggakan orangtua di hadapan Allah kelak? kami termasuk ke barisan tersebut.

Mengenalkan tauhid adalah salah satu agenda penting yang menjadi tugas kami sebagai orangtua. Dan ternyata bisa dimulai dan dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. Salah satu usaha yang kami lakukan adalah dengan menjaga diri kami jauh dari maksiat dan berbuat baik disetiap kesempatan.

Disetiap kesempatan, saya dan suami juga bergantian mengajak ngobrol baby di perut sambil mengelus-elus perut pelan. Menyampaikan padanya untuk senantiasa sehat, kuat, dan jadi hamba Allah yang taat dan bertakwa. Nggak lupa saya ajak baby di perut untuk sama-sama berdzikir mengucap kalimat tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan istigfar beserta artinya.

Terus, emang baby di perut bisa mendengar?bisa merespon?

Bagaimana saya mengajak baby dalam perut ngobrol pun seperti saya mengajak ngobrol anak pada umumnya. Seringkali apa yang saya sampaikan direspon langsung dengan gerakan dan tendangannya dari dalam perut yang menambah semangat saya mengajaknya ngobrol. Berdasarkan literatur yang saya baca, pada usia kehamilan 24 minggu baby di perut sudah berkembang indera pendengarannya, jadi baby bisa mendengar suara-suara dunia di luar perut termasuk suara saya J.

Saya percaya setiap baby itu cerdas, bahkan sejak masih dalam perut. Jadi, mengajaknya ngobrol untuk mengenalkannya pada kalimat tauhid sejak masih dalam kandungan adalah bukan hal yang mustahil insyaallah.

Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih (QS. Ash-shaffat:100)

#arisantulisan #rumbelmenulis #IIPBatam #hamil #pregnancy #38weeks

1 Comment

  1. monique firsty

    28 December, 2017 at 6:15 pm

    Barakallahufiik mba lilies, semoga ananda menjadi anak yang shaleh/a😇

Leave a Reply