Negeri Para Bedebah

Dokumentasi pribadi (2013)
Dokumentasi pribadi (2013)

– Negeri Para Bedebah –

Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata.

Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah

Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat.

-Negeri Para Bedebah-

Bedebah! Negeri itu dipenuhi para bedebah. “Negeri Para Bedebah”, novel karya Tere Liye yang terakhir saya baca. Seperti novel-novel karyanya yang lain, membaca lembar demi lembar novel ini pun membuat saya gregetan untuk mengintip segera halaman berikutnya. Soal sinopsis jalan ceritanya, googling saja, nggak sedikit orang yang menceritakan alur ceritanya dan mereview detail novel ini pada blog-blog atau forum diskusi buku. Tulisan ini nggak akan membahas sinopsis ceritanya. Saran saya, baca langsung saja. Saya hanya akan menuliskan sedikit kesan saya ketika membaca buku setebal sekitar 400-an halaman ini.

Cerita pembuka di novel ini nggak cukup menarik perhatian saya. Terbukti, awal-awal membaca novel ini saya nggak sepenasaran setelahnya. Yah, mungkin karena cerita-cerita pada bab awalnya baru pembuka tokoh-tokoh cerita. Tapi memasuki bab-bab selanjutnya, rasanya berat sekali melepas buku ini ketika saya sudah tiba di stasiun tujuan. Maklum, saya membacanya hanya ketika di kereta pergi dan pulang kampus. Karena segregetan apapun sama novel ini, nggak tepat kalau 24 jam waktu saya dalam sehari hanya dihabiskan untuk memenuhi haus dahaga penasaran ini.

Menariknya, novel ini apik menyajikan cerita tentang ekonomi dan politik. Penyampaian berbagai istilah ekonomi yang jauh dari dunia saya, sedikitnya bisa saya pahami dengan baik. Sepertinya kemampuan Tere Liye sebagai pengajar di bidang ekonomi oke banget. Menyampaikan cerita dengan istilah-istilah ekonomi, untuk pembaca yang berlatarbelakang ekonomi mungkin sudah biasa. Tapi di novel ini, novel yang dibaca oleh banyak orang dengan latarbelakang pendidikan yang berbeda-beda, saya rasa luar biasa. Yah, meskipun saya sendiri, harus berhenti sejenak sesekali, mencoba memahami, ketika sampai pada paragraf-paragraf yang berisi istilah perekonomian yang jarang terdengar.

Pada bab-bab tertentu saya sempat merasa novel ini seperti novel terjemahan sih, tapi justru itu yang sedikit tidaknya membuat imajinasi saya bekerja, seakan menonton film drama action yang dipenuhi intrik politik di televisi. Jadi ingat film Deru dan Debu, dan film-film action jaman dulu. Novel ini bercerita perjalanan beberapa hari tokoh utamanya. Namun perjalanan beberapa hari tersebut mampu disajikan ke dalam ratusan halaman. Sungguh membuat saya gregetan penasaran.

Tokoh utama novel ini juga menarik. Cara bertindaknya bisa dibilang bisa sejajar dengan John McClane di film Die Hard(serial) atau Tony Mendez di film Argo (2012). Mampu berfikir jernih dan cepat disaaat situasi terdesak sekalipun. Yah, meski tindakannya nekat dan mesti melanggar aturan.

Kalau pernah dengar istilah white collar crime, nah di novel ini banyak contohnya. Lain kali mungkin saya bahas soal white collar crime di novel ini lebih detail.

Kabar buruk untuk penggemar novel action-romance, NO romance here, sob! Overall, as i said before, langsung baca saja :D, it’s worth it.

Leave a Reply