Pengalaman pertama diinfus

Setiap pengalaman kehamilan setiap orang berbeda-beda. Bahkan pengalaman kehamilan kedua ku juga ada yang berbeda dengan yang pertama. 


Memasuki usia kehamilan 30 minggu kontraksi palsu lebih sering terjadi. Alhamdulillah sebatas kencang-kencang yang masih bisa dibawa aktivitas seperti biasa. Dibanding kehamilan sebelumnya memang kurasakan perut udah turun banget. Berasa banget gerakan menekan kebawah arah jalan lahir. Wah, doi uda mulai nyari jalan nih, pikirku. 


Saat usia kehamilan 32 Minggu aku ajak suami kontrol ke obgyn lebih cepat dari jadwal seharusnya. Feeling aja. Kayaknya lebih cepat lebih baik. 
Sesampainya di lokasi praktek dokter, dapat kabar dokter terlambat mulai praktek karena ada operasi dulu. Sembari menunggu aku dan suami survei ke lantai dua RS untuk lihat kamar inap dan cari tahu biaya persalinan. Ga ada lift disana. Kalau mau naik ya pilihannya tangga atau jalan menanjak buat kursi roda. Dengan percaya diri ku memilih tangga. Itung-itung ah sekalian naik turun tangga olahraga persiapan persalinan. 


Giliran ku tiba. Setelah mendengar (alhamdulillah) bayiku sehat dan kondisi bagus, ku ceritakan keluhanku yang belakangan ini kurasakan.  Bayi berasa banget bergerak menekan nyari jalan lahir kearah bawah. Kuceritakan juga bahwa kakiku terutama bagian pangkal paha kiri nyeri saat diangkat sedikit, saat wudhu misalnya.


Mendengar keluhanku, dokter memutuskan untuk cek dalam. “MasyaAlllah lis, ini uda mau mulai pembukaan ya…“. Singkat cerita, karena belum 36 minggu, dokter minta aku bedrest dan malam itu juga rawat inap untuk dikasih obat pematangan paru-paru. Jadi seumpama lahir lebih cepat pun paru-paru bayi sudah ready dengan dunia luar. 

Ga boleh pulang ya, suaminya aja kalo mau pulang” begitu jawaban tegas tapi lembut dokter ketika aku minta ijin pulang dulu ambil baju dan urus anak pertama. 
Dari ruang praktek dokter ku diantar ke lantai dua dengan kursi roda. Iyes, ga boleh jalan lagi duh duh, langsung keinget tadi saat nunggu giliran kontrol aja aku uda naik-naik tangga rumah sakit..haha.


Jadi intinya karena uda kebanyakan gerak, janin uda siap-siap mau meluncur aja nyari jalan keluar, padahal menurut usia kehamilan ya belum waktunya. Kalau dipikir-pikir iya juga sih. Hamil sembari menjaga batita aktif itu masyaallah luar biasa. Jongkok-berdiri, gerak sana sini, ga berasa tuh sembari jagain bocah. Dan gerakan gerakan itu secara ga sadar mempengaruhi proses persiapan persalinan. 


Daan Akhirnya untuk pertama kali dalam hidupku, aku diinfus dua hari untuk pematangan paru dan menjaga agar rahim ga sering-sering kontraksi dulu. Dengan kata lain aku diminta dokter bedrest dulu. Santai-santai aja dulu di rumah sakit😂. Melalui infus   disuntikkan obat pematangan paru-paru yang disebut “dexa”. Efek obatnya lucu. Tak lama setelah dexa dimasukkan ke infus, muncul sensasi digigit semut banyak gitu di perineum. Geli. Pertama kali disuntik aku ketawa kegelian di depan perawat😂. Suntikan ini lalu dilakukan rutin delapan jam sekali.

Aktivitasku selama di rawat ya di kasur aja selain ke toilet. Baca-baca, tidur, makan, ngobrol. Agak ribet sih diawal karena pergerakanku biasanya cepat dan lupa tangan diinfus. Jadinya darah sempet naik diselang infus karena petakilan gerak mulu.


Setelah kurang dari dua hari infus dilepas. Sudah boleh pulang sama dokter, Alhamdulillah. “Mau lanjut bedrest disini lagi Lis?” Tawar dokter padaku sambil senyum-senyum. “Di rumah aja dok” jawabku cepat sambil ketawa kecil. 

Pengalaman diinfus ini pertama kalinya selama tiga puluh tahun kuhidup. Dan semoga menjadi pengalaman satu-satunya.

Rasa-rasanya ini foto wajib kalo di infus nih..kayak netijen lain😁

#Ruliskompakan #RumbelMenulisIPBatam #KomunitasIPBatam #

Leave a Reply