Pertanyaan Jannah

Suatu hari saya dan keluarga memenuhi undangan resepsi pernikahan sepasang suami istri penghafal Alquran. 
Agak lama bertamu karena pengantin laki-laki adalah keluarga suami saya. Ba’da ashar kami berangkat dan baru sampai menjelang magrib. Lokasi yang lumayan jauh ditambah masih asingnya kami dengan daerahnya membuat perjalanan memakan waktu yang cukup lama.


Sesampainya di lokasi saya dan Umi  (ibu mertua saya), kami berpisah dengan Abah (ayah mertua) dan suami saya. Anak kami U yang pada saat itu belum genap dua tahun nempel ikut Abinya. Tamu perempuan dan laki-laki memang ditempatkan terpisah. Lengkap dengan hijab yang membuat pengantin perempuan serta tamu perempuan tak terlihat dari luar ruangan. MasyaAllah sungguh terjaga.


Setelah sholat magrib, Umar ikut saya dan Umi ke ruang pengantin perempuan. Kami duduk tepat di sebelah perempuan cantik Sholehah yang ga lain adalah pengantin perempuan. Setelah ngobrol cukup panjang ternyata pengantin perempuan masih tetangga dekat rumah Ibu saya, rumah saya dibesarkan. Jarak rumah Kami hanya dua gang. Kami berbincang tentang masa kecil, tentang orang-orang disekitar tempat tinggal kami yang sama-sama kami kenal. Bahkan orangtua kami pun saling kenal. MasyaAllah, meski dulu waktu kecil kami ga dekat ternyata kami tumbuh di sekitar mesjid dan tetangga yang sama. 


Disela obrolan, pengantin perempuan, sebut saja Jannah, mengajak Umar ngobrol juga. Umar yang sibuk makan semangka (sepiring habis sendiri😂) tetap meladeni. Setiap pertanyaan dijawab dengan santai. Diminta murojaah hafalan surat pendek pun mau aja doi MasyaAllah Tabarakallah.
Waktu pulang akhirnya tiba. Kami pamit ke Jannah. Setelah pelukan saling mendoakan, ada pertanyaan yang saya nilai serius dari Jannah tertuju pada saya. 
“Kak, amalannya apa kak Umar bisa kayak gitu?” 


Jreng jreeeng. Aku tertegun. Hanya tersenyum. Lalu mendoakan Jannah semoga Allah kasih buah hati shalih penyejuk hatinya.


Pertanyaan itu lalu mengendap di hatiku selama berhari-hari kemudian. Sampai akhirnya ku ungkapkan ke suami. Kuungkapkan dengan rasa malu. Malu karena nyatanya amalanku yang masih bolong-bolong. Sementara mungkin maksiat terus jalan. Aku malu. 
Apalagi pertanyaan tersebut berasal dari perempuan shalih penghafal Alquran. Sementara aku yang menjadi sumber rasa pertanyaannya?masih tertatih-tatih dalam menghafal. Sholat pun masih dengan surat yang itu lagi itu lagi. Duh.


Apalagi ketika kuingat pertanyaan Jannah ketika masa habis sholat, aku malu. Sesungguhnya kemudahan-kemudahan dalam pengasuhan dan apa yang menjadikan anak kami seperti saat ini adalah karena campur tangan Allah didalamnya. Hanya karena ijin Allah Umar dipandang dan dinilai menyenangkan di mata manusia (dan insyaallah di mata Allah).


Sesungguhnya mendampinginya tumbuh dan berkembang mengajarkanku banyak hal. Setuju dengan apa yang pernah disampaikan Ustadz Harry Santosa,”Mendidik fitrah Ananda pada ghalibnya adalah mendidik fitrah kita sendiri”


Semoga pertanyaan dari Jannah saat itu selalu membekas dan diingat selalu. Pertanyaan yang selalu menyentilku agar selalu ingat betapa lemahnya diri ini tanpa ijin-Nya. Tanpa pertolongan-Nya. Segala nikmat sekecil apapun sungguh berasal dari-Nya. 

#kelasLiterasiIbuProfesional

Leave a Reply