Pindah

Sudah satu tahun tiga bulan saya pindah ke kampung halaman, Batam. Setelah sebelumnya delapan tahun berada di perantauan guna menuntut ilmu di perguruan tinggi dan bekerja. Tahun 2008 tepatnya, saya hijrah ke Kota Depok untuk melanjutkan studi sarjana di kampus perjuangan kata orang. Empat tahun menyelesaikan studi ternyata tak membuat saya cukup puas dan tetap berada disana mencari rezeki di tempat yang sama, kampus perjuangan. Sebagian besar hidup saya bisa dibilang ada disana, sahabat, aktivitas, pekerjaan, hobi, ada di sana.

Butuh lebih dari satu tahun bagi saya untuk mengambil keputusan pindah ini. Waktu yang cukup lama sampai akhirnya Allah memantapkan hati saya untuk pindah ke kota tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, kota yang justru selama delapan tahun diperantauan saya rindukan. Kota tempat tujuan saya menelpon hampir disetiap malam, memastikan semuanya baik-baik saja atau sekedar menanyakan masakan apa yang mama buat hari ini.

Kembali ke kota kelahiran, kembali berkumpul bersama orangtua dan keluarga, tentu membuat saya bahagia. Namun juga sekaligus membuat saya sedih. Sedih meninggalkan sebagian kehidupan yang delapan tahun menemani saya. Sahabat, pekerjaan, lingkaran komunitas, saya tingalkan. Sedih dan haru, karena sadar delapan tahun ini sudah banyak pengalaman dan kenangan disana yang menjadikan saya seperti saya yang sekarang. Membentuk saya menjadi saya yang berbeda dari delapan tahun yang lalu.

Satu bulan pertama setelah pindah adalah saat-saat yang cukup berat bagi saya. Seringkali saya terdiam sendiri tiba-tiba, tak peduli dimana berada. Terbawa perasaan mengingat kenangan ketika di Depok. Seringkali saya merasa seperti masih berada di Depok. Mungkin itu perasaan rindu. Rindu macet-macetan dijalan kalau malam minggu keluar, rindu jogging sendiri menikmati ayunan langkah kaki setelah jam pulang kantor, rindu kumpul dengan sahabat seperjuangan, rindu dengan komunitas sehobi. Ya, kata orang ini rindu. Proses pindah ternyata tak hanya selesai ketika tubuh dan barang-barang saya diangkut burung besi alias pesawat dari Jakarta ke Batam. Mungkin rasa-rasa rindu yang satu bulan pertama itu saya rasakan juga bagian dari proses pindah yang harus saya nikmati.

 

Manusia berpindah

Saya rasa “pindah” tak lepas dari hidup manusia. Berpindah dari alam ruh ke rahim, dari rahim ke dunia, hingga kematian memindahkan kita ke alam kubur. Tidak berhenti disitu, hari penghisaban dan pembalasan pun menunggu waktu untuk dihampiri. Pindah yang saya lakukan hanya perpindahan kecil yang menjadi bagian dari proses perpindahan alami manusia.

Perpindahan domisili ini tidak hanya perihal berpindah secara fisik bagi saya. Perpindahan ini juga termasuk proses saya bergerak menuju individu yang jauh lebih baik. Oleh karenanya, sampai sekarang tidak ada hal yang saya sesali dari keputusan ini. Bergerak dari satu kondisi ke kondisi lainnya, belajar menuju pribadi yang jauh lebih baik, bukankah itu juga bentuk dari “pindah”?

 

Nikmat lain terbuka

Ketika satu nikmat Allah putus, saya percaya ada nikmat lain yang Allah buka untuk kita. Nikmat bertemu dengan sahabat seperjuangan, nikmat bekerja dengan rekan-rekan yang menyenangkan, nikmat hidup mandiri sendiri, dan banyak nikmat selama di perantauan terputus karena perpindahan yang saya lakukan ini. Namun Allah menyiapkan nikmat lain di kota kelahiran yang insyaallah lebih baik dan lebih membuat saya bersyukur. Satu dari banyak nikmat tersebut yang segera saya rasakan dan benar-benar membahagiakan adalah nikmat mencium tangan kedua orangtua dan melihat lelapnya tidur keduanya di malam hari. Panggilan orangtua untuk kembali berkumpul dengan keluarga ini tak pernah saya sesali. Saya semakin yakin, ketika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan ganti dengan yang lebih baik.

Satu tahun tiga bulan dari kepindahan saya, Alhamdulillah dua dari banyak nikmat lain yang Allah berikan adalah nikmat menjadi makmum di keluarga kecil saya dan nikmat kehamilan anak pertama.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 *********************

Tulisan ini diikutsertakan dalam arisan tulisan #1 Rumah Belajar Menulis – Institut Ibu Profesional Batam. Temanya ditentukan oleh mbak Monique 

 

 

4 Comments

  1. Putri pamelia

    10 November, 2017 at 1:40 am

    Jadi kangen kampung saya hehehe

  2. moniquefirsty21

    10 November, 2017 at 7:14 am

    Terimakasih sudah berbagi cerita mba, ngomongin masalah pindah saya jadi akrab dengan kepindahan setelah menikah dg suami yang resiko pekerjaannya berpindah2. Ini yg membuat sy makin sadar sesungguhnya hidup itu hanya mampir saja. Btw semoga lancar kehamilan hingga persalinannya aamiin 💕

    1. Lilies Her

      16 November, 2017 at 2:57 pm

      aamiin, makasih mbak doanya…
      yes mbak, hanya mampir ya kita di dunia….

Leave a Reply