Pindah

Pindah. Satu kata yang menjadi tema lomba menulis di grup kelas mentoring lanjutan Sekolah Perempuan. Kapan-kapan saya cerita soal Sekolah Perempuan ya, salah satu tempat yang menginspirasi saya untuk menulis. Yah, meskipun kebanyakan aktivitas saya di grup tersebut adalah menjadi silent reader atau hanya membaca, tanpa komentar ini dan itu. Bicara soal pindah, entah mengapa kali ini membuat perasaan saya campur aduk. Hampir dua bulan sudah saya pindah domisili. Pindah kembali ke kota kelahiran setelah delapan tahun merantau di Kota Depok. Kembali berkumpul bersama orangtua dan keluarga.

 

Campur aduknya perasaan

Butuh lebih dari satu tahun buat saya untuk mengambil keputusan pindah ini. Waktu yang cukup lama sampai akhirnya Allah memantapkan hati saya untuk pindah kembali ke kota tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, Batam. Kota yang selama delapan tahun perantauan justru saya rindukan. Kota tempat tujuan saya menelpon hampir disetiap malam, memastikan semuanya baik-baik saja atau sekedar menanyakan masakan apa yang mama buat hari itu.

Perasaan saya ketika pertama kali pindah? Sedih tentu, pekerjaan dan teman-teman saya tinggalkan. Haru karena sadar delapan tahun ini sudah banyak pengalaman dan kenangan disana yang menjadikan saya seperti saya yang sekarang. Membentuk saya menjadi saya yang berbeda dari delapan tahun yang lalu.

 

Kata orang, ini rindu

Satu bulan setelah pindah ke Batam, disaat-saat tertentu saya suka diam tiba-tiba. Terbawa perasaan mengingat kenangan ketika tinggal di Depok. Mungkin ini rindu. Rindu macet-macetan dijalan kalau malam minggu keluar, rindu jogging sendiri menikmati ayunan langkah kaki setelah jam pulang kantor, rindu kumpul-kumpul dengan sahabat seperjuangan saling bertukar kabar, rindu berkumpul dengan komunitas sehobi, ya..rindu. Proses pindah ternyata tidak hanya berhenti ketika tubuh dan barang-barang saya diangkut burung besi alias pesawat dari Jakarta ke Batam, mungkin rasa-rasa rindu ini juga bagian dari proses pindah yang harus saya nikmati.

 

Manusia berpindah

Saya rasa “pindah” tak lepas dari hidup manusia. Berpindah dari alam ruh ke rahim, dari rahim ke dunia, hingga kematian memindahkan kita ke alam kubur. Tidak berhenti disitu, hari penghisaban dan pembalasan pun menunggu waktu untuk dihampiri. Pindah yang saya lakukan hanya perpindahan kecil yang menjadi bagian dari proses perpindahan alami manusia.

Perpindahan domisili ini tidak hanya perihal berpindah secara fisik bagi saya. Perpindahan ini juga termasuk proses saya bergerak menuju individu yang jauh lebih baik. Oleh karenanya, sampai sekarang tidak ada hal yang saya sesali dari keputusan ini. Bergerak dari satu kondisi ke kondisi lainnya, belajar menuju pribadi yang jauh lebih baik, bukankah itu juga bentuk dari “pindah”?

 

Nikmat lain terbuka

Ketika satu nikmat Allah putus, saya percaya ada nikmat lain yang Allah buka untuk kita. Nikmat bertemu dengan sahabat seperjuangan, nikmat bekerja dengan rekan-rekan yang menyenangkan, nikmat hidup mandiri sendiri, dan banyak nikmat selama di perantauan terputus karena perpindahan yang saya lakukan ini. Namun Allah menyiapkan nikmat lain di kota kelahiran yang insyaallah lebih baik dan lebih membuat saya bersyukur. Satu dari banyak nikmat tersebut adalah nikmat mencium tangan kedua orangtua dan melihat lelapnya tidur keduanya di malam hari.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 

 

2 Comments

  1. hani

    1 November, 2016 at 7:41 am

    hallo…hallo…salam kenal Mbak. Wah…rindu bermacet-ria ya Mbak?…Sukses selalu. Kapan yaa saya bisa main ke Batam?…😄

    1. Lilies Her

      1 November, 2016 at 11:40 pm

      Salam kenal mbak hani.. Iya nih merindukan macet, tp klo udah kejadian mah ogah sm macet hihi kabarin ya mbak kalo ke bataam 🙂

Leave a Reply