Protes!

Tepat seminggu yang lalu saya diamanahkan menggantikan seorang pelatih (coach) panahan mendampingi anak-anak kelas 1-4 SD yang ikut ekstrakurikuler (eskul) panahan di sebuah sekolah dasar islam terpadu di Batam Center. Ini kali pertama saya mendampingi anak-anak dalam jumlah yang cukup banyak (10 orang). Terus terang, sempat degdegan malamnya, sebelum tidur mikir terus apa yang kurang untuk persiapan besoknya ketika mendampingi mereka. Untungnya beberapa hari sebelumnya saya udah kenalan dan ini juga bukan kali pertama mereka latihan panahan.

Keesokan harinya satu jam sebelum eskul dimulai saya udah nangkring di lapangan tempat latihan, semua peralatan mulai saya siapkan pelan-pelan. Ketika waktunya tiba, satu persatu mereka mulai datang ke lapangan. Heboh ya anak-anak, ada yang datang lari-lari kerpotan sambil bawa tas gembloknya dan nenteng tas bekal, ada yang datang sambil senyum-senyum malu ngeliat saya, ada yang datang segerombolan ngampirin sambil manggil saya kayak mau nyerbu hehe, macem-macem.

Setelah sudah cukup banyak yang kumpul, mereka saya kumpulkan untuk opening dan berdoa dilanjutkan pemanasan. Nah ini nih, ketika belum saya kumpulkan mereka tersebar main di lapangan. Ada yang main ayunan, lompat-lompat, perosotan, dan ngacak-ngacak pasir. Untungnya, saya bawa priwitan alias peluit yang dikalungin ke leher. Langsung deh tuh priwitan bunyi biar pada noleh dan dengerin apa yang saya sampaikan.

“prit priiiit priiit”

“ayoo… siapa yang mau main panahan angkat tangaan… kumpul ayok di depan coach…”

Seketika mereka pada ngacung dan lari berkumpul di depan saya.

“coach, kok main sih…”

“.. ntar kalo main berarti anak panahnya diarahin kemana-mana loh..”

“..iya coach…”

“..iya kok main sih…”

“latihan dong coach, bukan main…”

Oalala, pemilihan kata saya langsung menuai protes dari anak-anak. Menurut mereka main dan latihan itu berbeda. Main ya main-main jadi nggak serius, latihan ya praktek belajar seperti di kelas.

Duh gemes. Pada pintar-pintar langsung respon pemilihan kata saya yang kurang tepat. Saya yang diserbu sama protes dari suara-suara mungil mereka langsung senyam senyum dan mengulang lagi kalimat serupa dengan mengganti kata main menjadi latihan.

ayook latihaan…” ucap mereka bersemangat setelah mendengar koreksi pengulangan ajakan latihan dari saya.

Pengalaman pertama nih sama mereka, moga langgeng ya kita dek adeek 😉

“ayoo kita latihaaan….”

Nb : oh ya, sayang nggak ada fotonya sama sekali, fokus dampingin sampai lupa mau dokumentasiin, next time kalo ada asisten buat moto enak nih hehe #kode

2 Comments

  1. minyak kemiri

    26 October, 2016 at 12:58 pm

    beda tipis aja jadi ribet ya mbak? hihihi

Leave a Reply