Review film : “The Old Guard” kesatria lintas peradaban

Film laga berdurasi kurang lebih 120 menit ini diadaptasi dari komik dengan judul yang sama karya Greg Rucka. Baru banget dirilis awal Juli tahun ini di Netflix. Jadi masih fresh banget ya. Update kan saya….Hohoho (ketawa Sinchan). 


Film ini dibintangi Charlize theron, kiki layne, Matthias Schoenaerts, Marwan Kenzari, Luca Marinelli dan Chiwetel Ejiofor. Nah loh susah kan nama-namanya, ini juga saya copas dari Google. 


Cerita di film ini mengenai sekelompok orang yang immortal atau abadi alias nggak bisa mati. Mereka hidup dari abad ke abad dengan keahlian tempur mereka. Andy (Charlize Theron) adalah yang tertua usia hidupnya dan pemimpin tim yang berjumlah lima ini.(Nah loh uda kayak power rangers). Diawal film mereka mendapat pekerjaan menyelamatkan sekelompok anak dari penyanderaan. Belakangan diketahui misi ini hanya jebakan untuk mengungkap siapa sebenarnya mereka. Karena yess, mereka kesatria immortal, abadi, alias nggak bisa mati. Sudah ditembak sana sini, robek sana sini, berdarah iya, luka iya, tapi nggak lama mereka langsung pulih, hidup. Makanya mereka nggak menua dan hidup terus. Usia mereka ratusan bahkan ribuan tahun. 


Setelah keabadian mereka terekspos, mereka mencari Copley si penjebak. Copley yang bekerjasama dengan perusahaan farmasi Merrick juga mencari mereka untuk dijadikan objek penelitian. Sepanjang film Andy dan tim bertarung dengan tentara bayaran Merrick yang dipimpin oleh Keannu. 


Seperti di film laga pada umumnya dimana Jagoan akan mudah mengalahkan musuhnya, di film ini apalagi ya, ditembakin juga mereka hidup lagi😂. Jadi udah bisa ketebak  pertempurannya seperti apa. Tapi tetap menarik dan seru sih menurut saya melihat gaya perkelahian Andy dan tim melawan tentara bayaran Merrick. Karena mereka bergerak sebagai tim tentara yang terlatih. Kerjasamanya oke. Kemampuan masing-masing karakter tim juga nggak diragukan ya. Bahkan kalau lihat lebih jauh lagi profiling yang saya lihat di IG resmi film ini, masing-masing memiliki keahlian khusus dan gaya tempur masing-masing. Seperti Joe dengan pedangnya dan Nicky si sniper.  


Di film ini juga diceritakan bagaimana mereka bertemu dengan anggota baru, manusia abadi seperti mereka, Nile, seorang marinir yang digorok lehernya tapi ternyata tidak mati. Melalui kemunculan Nile digambarkan bagaimana manusia yang tidak bisa mati-mati seperti mereka diawal mengalami kebingungan dan kesepian. Hingga akhirnya mereka saling bertemu sesama mereka dan saling melindungi. 


Biasanya kalau lagi nonton film kita suka kan nebak-nebak kearah mana film ini. Apa adegan selanjutnya, siapa yang jahat siapa yang baik, endingnya seperti apa, dll. Nah, selama nonton film ini entah mengapa saya ga terlalu mikirin itu. Kebawa suasana film aja gitu saking asyiknya. Dan memang bisa dibilang cukup banyak plot twist atau adegan tak terduga.


Kalau soal koreografi dari adegan laga nya sih asyik ya. Terutama yang berkelahi tangan kosong. Untuk gaya tempur ala militernya juga bagus, meski ya rada nekat karena ya mereka kan ga takut mati jadi agak bodo amet ketembak. Walaupun demikian film ini nggak cocok buat anak-anak, banyak adegan kekerasan tentunya.


Overall untuk kelas film laga, film ini menurut saya recomended untuk ditonton. Skor dari saya 8/10 deh. Meski somehow di imdb ratingnya hanya 6.7.


Oh ya, last. Mau bahas yang unik dari film ini. Mengapa saya bilang unik, karena jarang-jarang film laga yang saya tonton begini . The old Guard ini di sutradarai seorang perempuan, Gina Prince-Bythewood dan Andy kesatria pemimpin tim juga seorang perempuan. Seru gitu ketika melihat seorang perempuan memimpin tim kesatria atau lets say superhero. Ditambah di akhir film Andy dan Nile (yang juga seorang perempuan) kerjasama menyelamatkan teman-temannya.

‘Today, I put this on your wound. Tomorrow, you help someone up when they fall. We’re not meant to be alone.’

– Celeste (The Old Guard)

Leave a Reply