Teliti sebelum naik

Bagi saya, motor adalah kendaraan praktis, ergonomis, dan ekonomis untuk bepergian sendiri. Terlebih di daerah yang jalanannya padat dan suka macet. Perjalanan jadi lebih cepat karena bisa nyelap-nyelip diantara mobil. Sejauh pengalaman saya naik motor selama ini, ada dua kejadian menggemaskan yang melibatkan motor yang sampai sekarang masih saya ingat betul. Mengapa menggemaskan? Karena kalo diingat-ingat lagi, kejadian ini suka membuat saya geli lucu sendiri.

 

“Mbak, itu motornya mbak yang itu…”

Saat masih kuliah, suatu malam saya dan teman juga sebagian senior sedang menyiapkan acara orientasi mahasiswa untuk keesokan harinya di dalam kampus UI. Tiba-tiba mamang (om) saya menelpon dan minta bertemu di halte stasiun UI saat itu juga untuk mengantarkan barang titipan. Akhirnya saat itu juga saya inisiatif meminjam motor salah satu senior untuk menghampiri mamang yang sudah menunggu disana. Mengingat jaraknya yang lumayan makan waktu antara lokasi saya dan stasiun UI, mengendarai motor adalah pilihan terbaik saat itu ketimbang saya harus jalan kaki bolak-balik. Nggak sampai 5 menit, motor matic mio yang saya kendarai sudah saya parkir di depan halte stasiun UI berjejer dengan motor-motor lain disana. Sebagian besar motor yang diparkir malam itu adalah ojek dan sebagiannya lagi orang-orang yang menjemput rekan/keluarga yang akan turun dari stasiun kereta UI. Motor yang parkir berderet saat itu nggak terlalu banyak, sekitar 7-10 motor dengan jarak yang nggak terlalu dekat.

Setelah parkir, saya langsung menghampiri mamang yang sedang duduk di halte. Setelah mengambil barang titipan dan berbincang sebentar, saya pamit sambil mengobrol jalan ke arah motor. Berhubung jarak antara bangku halte dan deretan motor yang terparkir tidak terlalu jauh, sembari duduk di motor yang belum dinyalakan mesinnya saya masih ngobrol sama mamang yang duduk di bangku halte.

Tak jauh dari tempat duduk mamang, ternyata saya sadar ada bapak berambut gondrong yang memperhatikan saya sambil tersenyum. Sebelum saya mulai curiga ke bapak yang senyum-senyum ini, tiba-tiba sambil masih melihat saya yang asik nangkring di motor si bapak nyeletuk “mbak, itu motornya mbak yang itu..”. Saya sontak kikuk dan melihat ke arah yang ditunjuk si bapak gondrong. Ternyata motor yang saya bawa tadi disitu. Sementara motor yang sedang asik saya naiki saat itu adalah motor si bapak gondrong yang duduk di bangku halte.

Tanpa melihat ke arah si bapak gondrong, saya lantas bergeser pindah ke motor pinjaman yang saya bawa sambil nyeletuk ringan “eh, salah ternyata hehe” sambil nyengir sok tenang dan kalem. Padahal mah malu juga bisa salah motor gitu, mana pemilik motor yang salah saya naiki lagi yang mengingatkan saya. Saat itu nggak hanya saya saja yang senyam-senyum geli, bapak gondrong dan si mamang juga masih senyam-senyum melihat saya yang baru tersadar salah naik motor. Padahal setelah saya lihat, motornya beda warna meski sama merknya. Oh no, gini nih kalo keasyikan ngobrol dan nggak teliti.

 

Untung nggak dikira maling

Kejadian kedua yang melibatkan motor terjadi saat saya pulang kampung untuk liburan. Seperti biasa, saatnya pulang kampung adalah saatnya silaturahmi dengan saudara dan teman-teman semasa sekolah. Malam itu saya meminjam motor jupiter abang saya untuk bertemu dengan teman-teman sekolah di sebuah mall nggak jauh dari rumah. Saya memilih parkiran basement karena lokasinya lebih luas dibandingkan parkiran lainnya. Mengingat  saat itu akhir pekan, parkiran lain di luar gedung mall akan padat dan sulit menemukan lahan. Setelah sampai di parkiran basement dan menghafal lokasi dimana saya memarkirkan motor, saya menuju meeting point untuk bertemu teman-teman. Menghafal lokasi parkir ini penting buat saya, supaya pulangnya nanti saya nggak kebingungan mutar-mutar mencari motor karena interior lahan parkir mirip semua.

Selesai bertemu teman-teman dan berencana pulang, saya langsung meluncur ke parkiran basement menghampiri motor yang tadi saya bawa. Setelah naik, saya memasukkan kunci lubang pengaman di lubang yang biasa ada di motor-motor keluaran terbaru. Sekali dua kali memutar usaha saya tak berhasil. Lubang kunci nggak terbuka sedikit pun. Percobaan berikutnya tak lupa saya ucapkan bismillah lagi sebelum memulai supaya lebih tenang dan berhasil membuka lubang kunci motornya. Lagi-lagi tak berhasil. Saya mulai gelisah, memperhatikan kunci pengaman dan lubang di motor kembali dan memastikan saya memasukkannya dan memutarnya dengan benar. Tak kunjung bisa, akhirnya saya mulai celingak-celinguk. Sempat berpikir mencari bantuan di lokasi parkir yang lagi sepi orang hanya ada deretan motor-motor. Kepikiran juga untuk nelpon abang untuk sampaikan masalah lubang pengaman yang tak kunjung terbuka.

Lelah mencoba, akhirnya sembari masih duduk diatas motor saya mencoba menenangkan diri bersantai sambil lihat ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba pandangan mata saya tertuju ke sebuah motor di sebelah kiri saya yang berjarak kurang lebih 4-5 motor. Detik berikutnya saya tersadar kalau motor abang yang saya pakai adalah motor itu, bukan motor yang sedang saya duduki dan dari tadi saya congkel dan putar lubang kunci pengamannya. Pantas saja dari tadi usaha saya nggak membuahkan hasil. Motor yang saya coba buka lubang kunci pengamannya bukan motor yang saya bawa. Secepat kilat saya langsung pindah ke motor abang sambil sekilas memastikan nggak ada yang saya rusak di motor yang awalnya saya kira “motor abang”. Aah, untung saja saya nggak dikira maling sama pemilik motor yang dari tadi saya ubek-ubek. Dan untungnya lagi motor yang saya ubek-ubek nggak ada alarmnya sampai nguing-nguing bunyi karena saya paksa beberapa kali untuk buka lubang kunci pengamannya. Lagi-lagi, saya nggak teliti sebelum naik. Alhamdulillah, saya masih bisa pulang dengan selamat malam itu.

—–

Beberapa tahun kemudian saat sudah bekerja, saya membeli motor sendiri untuk mondar-mandir. Sengaja saya memilih motor yang ada alarmnya. Jadi tinggal pencet tombolnya lalu saya bisa dengan mudah menemukan dimana motor saya parkir. Belajar dari dua kejadian menggemaskan sebelumnya, saya juga selalu mengecek nomor polisi motor yang akan saya naiki, memastikan motor tersebut benar milik saya dan tidak lagi mengalami kejadian menggemaskan seperti sebelumnya. Jadi, teliti sebelum naik yaaa…

 

#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN #sekolahperempuan

2 Comments

  1. Muyassaroh

    20 October, 2017 at 6:24 pm

    Hihi..untung saya tidak bisa naik motor. Kalau bisa, sudah berapa kejadian memalukan yang akan saya alami yaa…^^

    1. Lilies Her

      20 October, 2017 at 9:38 pm

      Hehehe, ada hikmahnya kan mbak ternyata….
      Alhamdulillah cukup 2 kejadian itu saya alami,sampai skrg aman😁

Leave a Reply

%d bloggers like this: