Wisuda dan Seminar ; menjadikan akhir pekan penuh makna dan warna

Akhir pekan lalu tepatnya minggu 1 Oktober 2017 jam 6 pagi saya dan suami sudah keluar rumah menuju Batam Center. Jam 8-nya akan diadakan wisuda kelas matrikulasi IIP  Batam (Institut Ibu Profesional) dilanjutkan seminar parenting “mendidik anak dengan kekuatan fitrah” dari Ustadz Harry Santosa. Diperjalanan sembari menyantap sarapan saya menyampaikan ke suami “nanti ikutin aja bapak-bapak yang sebelum giliran kita yaaa” dan dijawab “Okee….”. Maklum, saya menjadi salah satu wisudawati pada acara wisuda nanti, dan saat rangkaian wisuda ada momen dimana para suami atau anak tampil di depan memberikan bunga dan sertifikat kelulusan untuk wisudawati. Dan very short and simple briefing ini dirasa perlu supaya suami nggak bingung nantinya.

Kelas Matrikulasi adalah kelas pertama dalam Institut Ibu Profesional. Kurang lebih tiga bulan lalu saya mengikuti kelas matrikulasi batch 4 IIP secara online. Institut Ibu Profesional adalah tempat belajarnya para ibu dan calon ibu yang ingin menjadi profesional di bidang pendidikan anak dan keluarga. Di sana para ibu dan calon ibu berkumpul sebagai komunitas yang saling mendukung dan berbagi untuk meningkatkan kualitas diri dan keluarganya dengan ilmu yang bermanfaat. Setiap minggunya di kelas matrikulasi yang saya ikuti terdapat materi dan tugas yang menantang bagi saya yang pada saat itu belum genap satu semester menjadi seorang istri. Lebih lengkapnya mengenai kelas matrikulasi kapan-kapan saya ceritakan.

Setelah wisuda selesai, acara dilanjutkan dengan seminar parenting “mendidik anak dengan kekuatan fitrah” dengan Ustadz Harry Santosa sebagai pemateri. Beliau adalah seorang dosen dan penulis buku “Fitrah Based Education”. Saya sendiri belum pernah membaca bukunya, hanya beberapa kali pernah melihatnya di facebook dan grup whatsapp sebagai rekomendasi buku untuk orangtua dalam mendidik anak. Tertarik dengan isi materinya, jauh saat  pertama kali informasi seminar ini launching saya segera mengajak suami untuk turut serta hadir. Sebagai calon orangtua, tentu saya ingin belajar dan tumbuh bersama suami sebagai nahkoda rumah tangga. Alhamdulillah, dengan senang hati suami mau ikut serta.

Jam tujuh pagi saya dan suami sudah hadir di lokasi acara. Sengaja satu jam lebih cepat, karena saya ingin bertemu dengan wisudawati lainnya. Maklum, ini kali pertama saya bisa bertemu muka langsung selama kurang lebih 3 bulan belajar bersama melalui whatsapp. Yang sebelumnya hanya bersapa dan ngobrol via whatsapp, kali ini bisa bersapa dan ngobrol langsung bertatap muka. Yang sebelumnya hanya tahu nama, kini sudah tahu muka.

Acara seminar adalah acara yang paling menyedot perhatian saya dan suami. Sepanjang penyampaian materi Ustadz Harry mampu memberikan gambaran ke saya dan suami bagaimana pentingnya peran orangtua dalam mendidik anak. Penyampaian materinya mampu membuat saya kadang tertawa dan kadang mewek sampai perlu buat saya bersusah payah membendung airmata. Nggak hanya terbayang peran saya dan suami sebagai calon orangtua, tapi juga teringat orangtua kami yang selama ini mendidik kami menjadi kami yang sekarang. Aah, meleleh hati kalau bicara soal orangtua.

Sepanjang materi, ada juga momen-momen saya dan suami saling melihat dan saling menepuk  punggung tangan bergantian, tanda saling menguatkan dan meyakinkan bahwa insyaallah masing-masing dari kami bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kami kelak. Materi mendidik dengan kekuatan fitrah yang disampaikan Ustadz Harry membuka mata kami seluas-luasnya bahwa anak adalah titipan Allah yang lahir lengkap dengan potensi masing-masing untuk berperan dalam peradaban. Tugas orangtua adalah menstimulus potensi tersebut sesuai dengan fitrah pertumbuhannya. Melihat dan mendengar pemaparan Ustadz Harry selama seminar membuat saya gatel ingin segera membeli bukunya. Insyaallah dalam waktu dekat harus punya bukunya meski perlu nabung dulu karena bulan ini belum ada budget pembelian buku sebesar itu. Yess, hitung-hitung investasi pendidikan. Kalau sudah dibeli tentu harus dibaca dan didalami serta diaplikasikan.

Selesai seminar, semakin banyak ruang dihati dan kepala yang rasa-rasanya kosong dan perlu diisi dengan ilmu lagi. Kami semakin merasa perlu belajar lagi lebih banyak untuk menjadi orangtua dan pribadi yang lebih baik. Kalo kata Ustadz Harry, orangtua itu arsitek peradaban, mereka yang merancang pendidikan yang sesuai fitrah anak-anaknya, lalu mengantarkan mereka kepada peran terbaik dengan adab mulia sesuai potensi fitrah.

Semoga seminar seperti ini bisa dihadiri oleh lebih banyak orangtua dan calon orangtua. Demi peradaban terbaik di masa depan. Terimakasih IIP Batam yang sudah mengadakan majelis ilmu yang istimewa. Akhir pekan saya dan suami minggu ini jadi semakin penuh makna dan warna.

Bukan akhir, tapi awal
Sebagian wisudawati dan Ustadz Harry Santosa

 

 

1 Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: